Dua putri manis, Alin dan Alia, menjadi mesin utama yang mampu mendatangkan energi nyaris tanpa batas. Kebahagiaan merebak dalam bathin terdalam tatkala melihat dua gadisnya tertawa gembira. Leni senantiasa sanggup melakukan segalanya, untuk kebahagiaan kedua putri manis Alin dan Alia. Keduanya telah menjadi hampir satu-satunya tujuan hidup, tumpuan kebahagiaan, serta sinar harapan. Sisa waktu Ia pertaruhkan untuk mendidik dan membesarkan Alin dan Alia. Mereka adalah prioritas utama, bagi waktu, sumber daya yang ada pada dirinya. Leni akan menunda apa saja untuk memenuhi dan menggenapi apa yang dibutuhkan Alin dan Alia. Mengantar sekolah, berwisata, membeli baju, sepatu, kebutuhan sekolah, atau apapun juga. Leni akan menunda semua hal, ketika kedua putri manis membutuhkannya.
Ia sadar benar, memprioritaskan kedua putrinya membuat seakan kekurangan waktu, karir menyita seluruh hari, dan week end, untuk anak-anak dan keluarga. Sangat sedikit sisa waktu untuk diri sendiri, namun Leni telah bertekad, telah memutuskan untuk menjalani gaya hidup demikian. Sesekali berenang bersama anak-anak, menjadi momen mengagumkan, menikmati makan bersama mereka selalu mendatangkan tawa dan kesenangan, bertabur kebahagiaan dalam bathin. Alia masih terlalu kecil saat ditinggal sang Ayah, Leni tidak ingin putrinya tumbuh berbeda dengan anak-anak lain, Ia bertekad membuktikan, tanpa didampingi Ayahnya, Alia akan menjadi manusia berprestasi. Tekad dan kesanggupan, memenuhi dada hampir setiap hari, saat-saat melelahkan oleh tekanan pekerjaan, bayang Alin dan Alia menjadi tambahan energi besar, menambah kekuatan untuk bersabar.
*****Leni menjalani kehidupan yang unik, selain kedua putri kandungnya, Ia sejak kecil merawat putri-putri Kakaknya. Sang kakak perempuan menjani kehidupan dengan gaya yang tidak bisa Ia pahami. Namun Leni tidak ingin memikirkan hal itu. Yang bisa dilakukan adalah menjaga para keponakan, itulah yang membuat Leni menjadi Ibu dari lima putri manis. Dua putri kandung dan tiga keponakan. Kini ketiga keponakannya sudah berkeluarga, bahkan sudah memberikan cucu-cucu yang lucu. Senantiasa ada kepuasan melihat para cucu. Seluruh perjalanan masa mudanya seakan terpahat pada sang cucu dan ibu mereka. Satu prestasi besar, tanpa piaagam penghargaan. Tokh Leni tidak membutuhkan penghargaan dari siapapun.
Setelah ketiga keponakannya, "mentas" putri-putrinya menjadi pusat kehidupan dan keseharian,lebih lima tahun menjadi kehidupan sebagai orangtua tunggal, bukan hal mudah, tokh sudah dilalui dengan selamat. Kini Alin masuk Perguruan Tinggi, tumbuh menjadi gadis mandiri, Alia memiliki kepribadian yg berbeda dengan sang kakak, sejak kecil tampak mandiri dan menyukai kesederhanaan. Kesederhanaan dalam memilih pakaian, barang kebutuhan juga sikap peduli sangat kuat. Alia nyaris tidak pernah merepotkan. Leni sering merasa sangat terharu melihat sikap Alia yang begitu sederhana, sangat jelas menampakkan kepedulian dan perhatian besar pada sang mama. Seluruh kebahagiaan, kehangatan merebak dalam diri, tiap kali mengingat dua putrinya, pada malam-malam gelap, pada hari-hari ketika Leni ingin sendiri. Ia merasa sangat beruntung, bukan hal sia-sia melewatkan masa paling paripurna kehidupan dalam kesendirian.
*****
Tentu saja sebagai manusia biasa, Leni pun mengalami saat-saat merasa sepi, merasa sendiri. Namun selalu saja ada jalan keluar, memainkan gitar atau organ. Bakat musik kuat ada dalam darah keluarganya, suaran Leni pun enak didengar, jernih, lembut, mendayu merdu, suara nan romantis dan syahdu. Bermain musik bagi Leni adalah pelepasan, ekspresi diri paling bermakna. Musik menjadi bagian penting ketika datang rasa kecewa, kesal maupun sedih, juga saat bahagia dan gembira. Musik adalah bahasa universal paling mudah dipahami manusia dari berbagai bangsa. Memainkan lagu-lagu kenangan, menjadikan hidup Leni penuh warna.
Leni dengan sadar menghindari hubungan personal, terutama dengan lawan jenis, selain belum ada yang mampu menyentuh hati, Ia pun merasa belum benar-benar membutuhkan, sekian lama melajang bahkan mendatangkan kenikmatan beraroma kesenangan, hidup tanpa beban melayani. Bagimanapun pernikahan di Indonesia seringkali kurang berpihak pada perempuan. Perempuan menanggung beban terberat dalam jalinan rumah tangga. Ini adalah fakta tak terbantahkan, pernikahan di Indonesia bukan masalah orang per orang, melainkan satu jaringan yg melibatkan saudara, keluarga besar bahkan teman dan tetangga, sehingga beban pernikahan menjadi sangat berat.
Dalam kesendirian, dalam kelajangan Leni merasa segalanya tercukupi, segalanya terpenuhi, karir yang baik, penghargaan dari kolega, kawan dan sahabat. Penghasilan cukup, membuat Leni betah berlama lama hidup lajang. Meskipun tidak sedikit lelaki yang secara terbuka maupun diam-diam menjadi pengagumnya. Tidak aneh, karena Leni memang figur langka. Tubuhnya tetap semampai pada usia setengah baya, kecerdasan dan inner beauty terpancar dalam kematangan pribadi. Terlalu banyak faktor yang mampu mempesona laki-laki ada dalam diri Leni.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar